KESULITAN DAN PENDERITAAN GAY

Kesulitan atau penderitaan yang merupakan sisi gelap dari kaum gay, dimulai sejak dini dari masa kehidupannya. Dalam hampir setiap fase perkembangan, kesulitan, atau penderitaan dapat muncul. Hal ini, seringkali berkaitan dengan relasi sosialnya, meskipun tidak jarang kesulitan atau penderitaannya, berkaitan dengan diri pribadinya sendiri.

Pada masa anak, seringkali arah minat permainannya, cenderung ke arah lawan jenisnya. Misalnya, anak perempuan menyukai perang-perangan, permainan laki-laki yang kasar. Sebaliknya anak laki-laki menyukai permainan dengan boneka. Masalahnya akan muncul, ketika mereka mendapatkan reaksi "keras" dari teman sepermainan, dari saudara-saudara atau dari orangtuanya. Kondisi ini dapat memunculkan perilaku mengasingkan diri dari lingkungannya. Ia merasakan konflik, sedih, merasa sendirian, dan sebagainya.

Pada masa remaja (pubertas). Ketertarikan seksual yang muncul pada masa ini, biasanya menyodorkan suatu kenyataan bahwa ternyata arah minat seksualnya, berbeda dengan teman-teman lainnya yang sebaya. Kesadaran akan perbedaan ini (being different), makin menguat. Akibatnya, cukup banyak diantara mereka yang menderita, sehubungan dengan identitas seksualnya. Mereka "menutupi" kondisi ini, dengan harapan bahwa suatu ketika, dalam suatu perkembangannya, akan muncul perubahan yang menakjubkan. Mereka berharap, akan bisa menjadi "sama" dengan teman-temannya yang lain.

Di antara mereka, banyak juga yang bertanya-tanya, kesalahan apa yang sedang terjadi dalam proses perkembangan mereka dan bagaimanakah jalan keluarnya? Bersamaan dengan masa ini, berkembang pula khayalan-khayalan seksual untuk memenuhi kebutuhannya, diawali dengan: "...seandainya...., maka...." Khayalan-khayalan ini berisi harapan, hasrat, dan tidak jarang disertai pula dengan perilaku agresi. Khayalan-khayalan ini, seringkali menghanyutkan luapan kenikmatan. Akan tetapi, setelah khayalan itu lenyap, munculah perasaan sedih bahkan kepedihan yang mendalam.

Kepedihan ini dirasakan karena dalam kenyataannya, kenikmatannya merupakan larangan yang sulit untuk direalisasikan. Banyak hambatan dan halangan yang harus ditempuh, sehingga kenyataan dari suatu kenikmatan, merupakan suatu yang sukar untuk ditolerir. Konflik-konflik muncul, misalnya ada perang bathin antara: ...melakukan? ...jangan melakukan! ...tidak melakukan ...kebutuhan yang mendesak tidak dapat tersalurkan!

0 Responses