APA SIH PENYAKIT KAWASAKI ITU ?

Akhir2 ini,mungkin (buat ibu2 muda,) pernah mendengar,nama penyakit ini,atau mungkin sebagian ibu2 muda masih asing mendengar nama ini?! Di blog ini,aku mo berbagi info,buat ibu2 muda nan modern…(hihi)

Penyakit Kawasaki ini pertamakali ditemuin sama Dr.tomisaku Kawasaki,thn 1967…dan menyerang balita..Ciri2 dari penyakit Kawasaki ini adalah: anak menderita demam akut disertai dgn Exantherma (kemerahan pd kulit),bila di lihat sepintas seperti campak..dan disertai demam tinggi(bersifat remiten,dpt mencapai 41 derajat celcius,berlangsung sekitar 5 hari ato lebih)

Penyakit Kawasaki ini sudah di temukan di Indonesia..

Konsekuensi terberat dari terserangnya penyakit ini adalah,terserangnya arteri koronaria(pembuluh darah ke jantung)sehingga mengganggu kinerja jantung,yg berlanjut pd gangguan tumbuh kembang anak bahkan bisa berakibat pada kematian..

Penyebab dari Kawasaki ini,belum diketahui secara pasti.Banyak yg menduga bahwa penyakit ini,disebabkan oleh bakteri,virus,atau klamidia.Diduga proses gangguan pada system imunitas memacu proses penyakit ini.Tapi hal2 diatas blm dpt dibuktikan kejelasannya.

Di Jepang sndiri,thn 1999 tercatat 125.000 kasus..sedangkan di Indonesia (Jakarta dan sekitarnya) telah ada 100 kasus.Penyakit ini lbh byk ditemukan pd balita asia daripada balita di Barat.Dar pengamatan di Indonesia lbh byk pada warga keturunan Cina,walopun pribumi jg ada.

Penatalaksanaan PK,harus rawat inap.Walopun tdk ada therapy spesifik.Hingga kini pengobatan terpilih adlh dgn menggunakan Gmaglobulin dosis tggi dan asam asesil salisilat perotal..Perjalanan penyakit ini adlh self limiting(sembuh dgn sendirinya).Angka kematian sekitar 1-5 %.sbg akibat dari klainan jantung dan pembuluh darah baik fase akut maupun lanjut..demikian keterangan dari Dr.Setiawan Mokoginta,SpA..

“BUKAN LELAKI BIASA!!”..(MENGUAK KEHIDUPAN GAY JAKARTA)

Berbicara ttg homoseksual sebenanya gak Cuma menyangkut objek lelaki.Homoseksual merupakan penyimpangan arah seksual dimana terjadi ketertarikan terhadap sesame jenis.

Sama halnya dengan kehidupan manusia,ada yg berada di jalan yg benar,tapi ada juga manusia yg menempuh “salah jalan..nah,begitu pula dgn kehidupan seksual,ada yg biasa,yakni laki2 tertarik dgn wanita,(heteroseksual),tapi ada juga yg penyuka sesama jenis(utk yg laki di sebut homoseksual,yg wanitanya di sebut lesbian),bahkan ada yg tertarik dgn kedua nya disebut Biseksual.

Identitas gay yg di”sandang”oleh sebagaian laki2 tentu bukan suatu keberuntungan,namun homoseksual (gay)bukanlah sesuatu yg memalukan krn kecenderungan homoseksual bukan suatu tindak kejahatan.

Dulu banyak kaum homoseksual sangat menutup diri.Sembunyi2 adalah pilihan mereka lantaran masyarakat belum lah dpt menerima mereka dan kaumnya.Maka nya mereka mempunyai komunitas sendiri,juga memiliki dunia sendiri.Padahal mereka juga manusia yg layak seperti yg lain.Hanya orientasi seks mereka saja yg membedakannya.

Perubahan nilai social dan cara pandang masyarakat saat ini cukup bisa menerima komunitas kaum gay,lesbian.Walopun baru hanya sebagian lapisan masyarakat saja.

Namun kini nampaknya,telah terjadi pergeseran2 nilai dan cara pandang thd kaum homoseksual.Smakin byk kaum gay yg telah berani tampil transparan,seolah mereka ingin menunjukkan identitasnya,yg mereka anggap inilah “aku” dan tak perlu lagi ditutup2i.Bahkan ada beberapa kaum gay yg sengaja becoming out,berani membuka diri.Keputusan ini sungguh sangat2 mbutuhkan pengorbanan yg besar.

Lihat saja..saat ini banyak acara2 ,baik itu hiburan maupun acara formal ygdi gelar dan diadakan khusus utk kaum gay di Jakarta (di daerah2 juga ada) yg dibuat secara terang2an.Satu bukti bhw kaum gay telah berani memunculkan identitasnya.Tak hanya sekedar mencari sensasi ato ikut2an meramaikan dunia malam Jakarta yg smakin gemerlap,tapi mereka mlakukan hal ini lebih sebagai bentuk pengakuan diri mereka kpd masyarakat.

Tapi gak semua kalangan homoseksual berani utk berekstrovert lohh..krn sebagian dari merekamsh membutuhkan yg namanya privacy..

Byk faktor yg nyebab in munculnya seorang laki2 mjd gay..dan penyebab itu ampe skrg msh di perdebatkan..muley dari faktor genetic,psikologi,lingkungan dan pergaulan,faktor ekonomi ampe faktor “takdir”.

Kaum gay pria adalah kaum yg tampilannya laki2,gak kemayu,tappppiiiiiii…”bukan laki2 biasa”…

Dan “dunia”kaum gay memang tdk mudah tercium,beda dgn “dunia”kaum gay waria…

Dlm penggunaan bahasa pun,kata2,istilah yg mereka gunakan berbeda..klo kaum gay waria delalu menggunakan bahasa “banci”(org2 nyebut nama bhs nya bhs banci”),beda dgn kaum gay,mereka tdk make bhs “Banci”dlm keseharian mereka..

Kaum gay metropolis kini sepak terjangnya,gaya idupnya,sdh tdk seperti dulu,mereka sekarang tak ada bedanya dgn kaum heteroseksual yg menganut paham kebebasan dunia malam di kota metropolitan ini.Kaum gay seakan kini GO PUBLIC ditengah2 gemerlapnya dunia malam Jakarta.

Dan kaum gay yg dulunya (dominan)selalu di kucilkan masyarakat,kini mereka dpt menjadi sahabat,di tempat2 hiburan malam di Jakarta yg punya target market kalangan elit,kini dgn cueknya menggelar event2 spesial utk kaum gay berduit.ada yg terang2an gelar event tsb,tapi ada pula yg ngumpet2.,dgn alasan ingin privacynya tetap tjaga.

Makanya byk kalangan homo yg high class, lebih menginginkan sutu PRIVATE PARTY..,dgn private party itu mereka bisa mbuat acara sebandel mungkin or sebebas mungkin,dan tentunya sesuai dgn keinginan mereka.

Bahkan saat ini ada Event Organizer (EO) yg khusus membuat konsep acara seperti apa yg mjd keinginan konsep pesta “gila” mereka..(EO ini melayani jasa membuat konsep party utk kaum gay).

Bahkan EO ini juga melayani jasa resmi n formal seperti gathering,wedding,exhibition…

Sebenarnya yg mereka cari adalah kenikmatan diri sendiri,mencari arti dari kesenangan utk dirinya..krn bagi kaum homo seolah sulit utk mendptkan kenikmatan dan kepuasan diri yg notebene nya adlh kepuasan seksual.Sebebas apapun tetap saja mrk hrs sembunyi2 utk memperoleh kenikmatan seksual sejenis mereka.

Kalo seorg laki2 biasa yg menganut dan gemar berpetualang mencari wanita penghibur,suatu saat nanti pasti merekabisa menyudahi petualangannya dgn menikahi wanita,beda dgn seorang laki2 yg memiliki kecenderungan homoseksual.Meskipun mrk bisa mnikah,tapi mrk tdk mudah menjalani kehidupan seksual mereka,skalipun bisa itu hanya semu..Maklumlah seorang homoseksual hanya bergairah dgn sesama lelaki.

Tapi tdk semua homoseksual hny mencari kenikmatan seks smata,byk juga yg tdk demikan kok !!

Utk menguak dunia homoseksual yg kalangan “jetset ato high class ato kalangan homoseksual yg eksekutif,punya tantangan tersendiri,di banding (maaf yach..)yg kalangan homo yg bawah..

Sebab kalangan homoseksual yg high class itu,dpt melakukan hal2 yg fantastis,namun sulit utk di ekspos.sementara kalangan homoseksual yg kelas bawah,kehidupannya tdk neko2 alias biasa2 aja..

Di kafe2 jakarta,kaum homoseksual highclass sering beredar,mereka semua tampak macho..:))pokoknya mereka berpenampilan sbg laki2 metrosexual,body ok,bicep nya?! Boleh di “check becky”pasti be sepir…kadang2 kita sering terkecoh,di sangkain normal,gak tau nyaaa..bukan….:)mereka homo !!! yg pasti ada di benak aku klo ngeliat mereka pasti timbul pikiran bgini,gimana sih kehidupan mrk yg sebenarnya,status mrk di masyrkt,dan udh pasti..gimana sih,kebutuhan biologis mrk??? Gmna yach,mrk nyalurin hasratnya??

Aku,knal dgn beberapa gay yg termasuk kategori eksekutif..pernah suatu kali,aku nanya sm tmen ku itu,ttgdunia gay..kt tmenku(sebut aja nama nya Dark)…Dark bilang gini: “ander..ander..dunia gay itu gak usah tlalu di pusingin lah..!!! buat Dark dunia gay,adlh dunia “STUPPID”akibat kesalahan2 org2 di dlmnya…sapa yg suruh mereka jd gay,tmasuk aku?! Kata dark saat itu,di tengah hangar bingar nya musik..di salahsatu kafe di bilangan senayan.Dark temen aku itu malah boleh di bilang punya”jaringan”dan gaul bgt dgn kalangan2 “sejenis”nya..

Lagi2..aku mikir..walo pun aku dekat dgn Dark..boleh di bilang utk menguak kehidupan gay nya`si Dark itu butuh pendekatan khusus utk ngulik2 nya n kyknya Dark punya kehidupan yg “kasat mata”

Pria2 gagah,byk di sukai wanita,bergaya layaknya seorg laki2 sejati..sapa yg nyangka yach,klo ternyata mereka punya kecenderungan homoseksual.Utk ngenalin pria gay gak gampang lohhh..krn notabene penampilan mereka..bener2 lakiiiiii bgtttt.(.penampilan,sikap,fisiknya).Tapi tmenku yg gay lainnya(sebut aja nama nya JAMY),ngasih tau ke aku..”liat aja mata nya,nder!’..dari mata bisa ketauan kok dia gay apa bukan..(ini “jurus” yg di kshtau sama Jamy..lohh..tau bener tau boong..:))..biasanya sesame gay,udh “KLIK” kok soal sinyalnya..”magnet”nya dapet aja,nder!”cerita Jamy temenku yg jg gay..

Jamy mungkin lebih “open” ke aku soal dunia gay nya di banding Dark temenku yg gay juga(yg aku critain di atas td)Pernah suatu saat ,usai jam kantor,Jamy ngajak aku ktmuan sm “SUAMI”jadi-jadiannya..(huahaha..suami kok “jadi-jadian”?!!),di tempat fitness centre di kawasan Jakarta selatan..ok..aku mau,ikut acara nya si Jamy..jadilah aku ktmu dgn Jamy di tempat fitness..nah tuh Jamy..pandanganku akhirnya tertuju pd Jamy yg sedang mlambaikan tgnnya pd ku..Tapiiii..”O,O,O,Owwww sapa tuh laki2 metroseksual yg sedang mengelus pipi Jamy?! Wuahhh..”spectacular” bgt pemandangan di depanku..”knalin nder.ini Doddy,yg gw critain td di tlp..Kt Jamy..”Beibb..(Jamy manggil Dody,”beib?!,bener-benerrr dah si jamy..:0 )knalin ini ander,or erly..dia tmen baik aku dari jaman kuliah dulu..”Jamy ngenalin aku ke “Suaminya”..

Yg bkin nganga mulut ku,Jamy n Dody,benerr2 romantis lohh..sama Dody..!!Gak eduli sejuta mata memandang!! Trus usai kelar mereka fitness,mereka pamitan mau sauna..Hallaaahhh..sauna?! mereka maintenance fisik mereka rupanya..pake sauna sgala!! Yah..aku sih tetap main treadmill,sambil mikir..”giling,dah si Jamy?!’

Sampe rumah,aku lgsg koling Jamy..nanya2 soal yg tadi di fitness..kok bisa sihhh..Jam..lo pny “hasrat,utk romantis2an sama Dody?!”kt nya itu belum seberapa nder!!”Belum ada setengahnya..”Hahhh?!’

Mereka (Jamy n Dody)sekrg “living 2gether”di apartemen..

Kisah Jamy n Dody,ini layaknya pasutri benerann..Jamy bilang kata nya dia`slalu masakin makanan buat ‘suami”nya..n bla..bla..bla..dan diantara mrk ada kecemburuan juga,kasih sayang,kesedihan,keperdulian..kebahagiaan(semu gak yach?)

Pria-pria cantak a.k.a cantik,(jelita)laki2 yg doyan berdandan danberpenampilan seperti wanita,gemulai,kemayu,mereka lah yg disebut gay waria.tapi bertubuh pria..

Nah..aku juga pernah (duluuuu..wkt masa muda,blm merit..di ajak ke “Dugem”nya para waria di bilangan kota nama nya Diskotik ML(ini nama singkatan dugemnya,krn gak etis yach,klo aku sebutin nama nya)..di ajak sama gay waria salon..huahaha(pengalaman yg gak terlupakan..sampe2 pacarku yg skrg jd suamiku..kaget,marah,mo “muntah”katanya,denger aku pamit minta ijin mo jalan sama(sebut aja,KITTY)gay waria ini..tapi biarin aja dehh..pacarku ngamuk2..toh aku Cuma penasaran aja sama “dunia”ini..:D

Jam 11 malem aku jemput si Kitty di salonnya..krn dia kata nya mo “bedendong”di “salsa”aja..(note:”bedendong,artinya:dandan..”salsa,maxudnya salon)..udh dpn salonnya Kitty keluar dgn dandanan ala Marilyn Monroe nya di kombinasi dgn dandanan Madonna (idola nya loh..2 superstar di atas):D

Aku ngakak liat ulah si Kitty..ternyata menurut aku..Kitty ini punya daya “imajinasi”yg tinggi..dandanannya mirip bgt 2 superstar tadi..pake wig blonde pula,lipstick ngejedooorrrrrr..(merah menyala,dari ujung bibir atas ampe ke bibir bawah..merah full).

Di perjalanan otw ke kota,sambil tangannya Kitty gratak2 CD koleksi aku,dia cerita..klo hari ini di diskotik ML,ada pemilihan Ratu Waria..maka nya dia ngajak aku..utk nonton..kebetulan dia jadi finalisnya..juri nya katanya..selebriti beneran..

Trus aku nanya (sambil nyetir nih),diskotik Ml itu khusus yach utk komunitas gay waria aja,ato ada homo nya,ato ada lesbiannya juga?”kitty bilang,banyakan sih..waria ama homo yg doyan binan..”lesbiola’ nya paling ada segelintir aja!

Sepanjang jalan asyik bercerita..gak terasa kita dah nyampe di ML..deg2an juga lohh aku..tapi kata Kitty..dia akan jagain aku kok..dia bilang,dia “megang”kok di ML..hallahhh..:P..”paling ander,di sangkain binan lo!’’ aku bilang:”enak aja,muka aku kan wanita bgt lohh!”,Kitty ketawa,dia bilang gini,”nder..di sana kan malem n remang2 muka2 binan disana juga jd ayu,cantik n smooth lohh!’ beda klo kmu liat siang2!”..Wah..aku jd tambah penasaran..saking enasarannya,pacarku tlp gak kedengaran bunyinya(nambah “mumun”aja deh acarku,saat itu..”mo muntah”,huahaha)

Begitu masuk kedlm ruangan ML,yg aku dapetin “atsmosfer”nya engappppppp..sumpek,jantungan rasanya..dan aku liat view yg “lain daripada yg lain..nih diskotik..benerrrrrrraaaannnnnnnn isinya BANCI!!! Persis bgt kyk banci taman di taman lawang..cantik..muka n body udah ngalah2in wanita beneran..malah kok aku liat byk mirip muka seleb2!!benerannn,sumpah!! Dan ada kjadian kocak di sanaaa..aku juga jd kna getahnya..disangkain Binan pula!!!!! Wah..gak sopan amerika nih..muka kayak gini di sangka banci..:(

Aku terusterang aja gak bisa nikmatin suasana nya,yg engapp,sumpek,bkin sakit mata n kpala ku..tapi demi rasa penasaranku..aku jd rela berlama2 di ML..pengen tau aja,gmn sih..komunitas waria itu kehidupannya..Ternyata lucu juga..ada pemilihan Ratu nya sgala loh..punya tempat dugem yg khusus utk mereka juga..

Dan dlm alam pemikiran aku..kaum gay waria itu,punya daya fantasy yg tggi..kreatif,penuh imajinatif..buktinya mereka bisa berdandan ala bintang idola mereka masing2..Kitty misalnya,bisa ngubah dandanan nya jdi seperti dandanan Marylin Monroe ‘perpaduan dan kombinasi”Madonna..ck..ck..salutt..

Usai acara pemilihan Ratu waria,kita pulang..di pintu keluar,Kitty asyik bersay hi dgn temen2 gaulnya..pake acara cipika cipiki sgala loh..cium pii kanan..cium pipi kiri..:) ada ada aja si Kitty..

Dlm perjalanan pulang,aku nanya sama Kitty..kok ada yach..dugem khusus binan?! Jawab Kitty..sambil nguap..nguap..”yach..gini deh nder..komunitas aku belum tentu kan di terima di tempat2 umum,belum tentu juga ada orang2 yg bisa nerima keadaan komunitas aku ini”..maka nya kita bkin tempat dugem khusus waria!!”

Sambil ngantuk2..Kitty sms in anak nya yg bernama sheila n aldy,utk janjian besok sore mau ajak mereka jalan2 n beli mainan di mall..

Ironic…tapi inilah fenomena real yg ada di sekitar kita..pasti ada pro dan kontra did lm nya..

Nah..guys..itu lah pengalaman aku jaman muda dulu..yg penasaran bgt sama komunitas ini..tapi aku liat mereka sepatutnya di terima di masyarakat..krn mereka pun patut utk di kasihi,di mengerti,secara personal n kepribadiannya..tai klo urusan “penyimpangan”,biarlah..itu mjd bagian dari privacy mereka..mereka baik2 lohh..dan menurut aku bisa jd tempat bercurhat2an,tempat utk berbagi keceriaan juga..pokoknya mereka adalah orang2 kreatif n punya perasaan yg berbudi halus juga..ini menurut aku loh..

Ok,guys..c u then !!

Tulisan ini di tulis berdasarkan pengamatan n pengalaman aku bersama komunitas ini..dan dari buku karangan nya “Lanang Priaga’..aku beli buku ini udh lama bgt..Cuma utk nyocokin..sama gak yach..cerita antara buku dgn pengalamanku bersama teman2ku dari “komunitas”di atas..ternyata ..Sama,n nyaris mirip!!

Notes: Lanang priaga..penulis yg menurut aku..amat pandai..spektakuler bgt buku anda..aku ampe nyariin buku kamu selama hamper 2 bulan..baru nemu..bow!!

Thanks bgt buat..papi dana,manager salon yg udh ngajak aku jalan2 ke ML..racun bgt nih papi..hihi,thanks yg kedua buat yopie de kock..buat tyas yg suka latahan..herman hedung atas story nya,tulus n surya..dewa,dll.. I love u all,!!

Kadar Homoseksualitas Bergradasi

Bisa diterima atau tidak, dalam kehidupan kita ada sekelompok orang yang memiliki orientasi seksual berbeda.

Pada umumnya, manusia memiliki orientasi seksual terhadap lawan jenisnya. Seorang pria tertarik pada wanita, atau sebaliknya, wanita tertarik pada pria. Mereka jamak disebut sebagai kaum heteroseks.

Namun, pada orang-orang tertentu orientasi seks macam itu tidak ada atau berkadar kecil. Mereka justru (lebih) tertarik pada orang-orang sejenis. Bila pria, mereka tertarik pada sesama kaum Adam. Umumnya mereka disebut gay. Sebaliknya, yang wanita tertarik pada sesama kaum Hawa. Wanita dengan orientasi seks seperti ini disebut lesbian. Gay dan lesbian inilah yang kemudian dikelompokkan dalam kaum homoseks.

Perilaku homoseksual dapat bermanifestasi sebagai pola preferensi pasangan erotik (pembangkit libido) yang tidak pernah mengenal atau merasakan bangkitan erotik oleh pasangan berjenis kelamin lain. Semua minat afeksi (alam perasaan) dan genital (daerah erotik) tertuju pada pasangan sejenis kelamin. Perilaku macam ini dikenal sebagai homoseksual overt atau eksklusif. Pelakunya sadar akan nafsu homoseksualnya dan tidak berusaha menutupinya.

Di antara homoseksual eksklusif (homoseksual sejati) dan heteroseksual eksklusif (heteroseksual sejati) terdapat homoseksual dan heteroseksual dengan kadar berbeda. Seorang heteroseksual sejati tertarik dan terangsang hanya terhadap lawan jenis. Namun, ada pula heteroseks yang tertarik kepada sesama jenis, hanya saja kadar ketertarikannya sangat kecil sehingga hampir tak berarti. Seorang wanita heteroseks misalnya, mungkin saja mengagumi wanita seksi. Atau, pria heteroseks mungkin pula mengagumi pria lain yang berotot. Namun, bila seseorang mempunyai rasa kagum, tertarik, dan terangsang terhadap sesama jenis jauh lebih dominan, dia sudah dapat disebut homoseks.

Berdasarkan skala Kinsey, skala orientasi seksual itu bergradasi sebagai berikut:

0 = heteroseksual eksklusif

1 = heteroseksual lebih menonjol (predominan), homoseksualnya cuma kadang-kadang.

2 = heteroseksual predominan, homoseksual lebih dari kadang-kadang.

3 = heteroseksual dan homoseksual seimbang (biseksual)

4 = homoseksual predominan, heteroseksual lebih dari kadang-kadang.

5 = homoseksual predominan, heteroseksual cuma kadang-kadang.

6 = homoseksual eksklusif

Dari skala tersebut, terlihat homoseksual mempunyai berbagai bentuk. Hal yang sama juga terjadi pada heteroseksual. Selain itu ada pula yang disebut biseksual. Namun, tidak mudah untuk mengetahui seseorang biseks atau tidak. Seorang biseks sejati (melakukan hubungan seksual nyata baik dengan sesama jenis maupun dengan lain jenis) jarang sekali ditemukan. Yang biasa ditemukan adalah pria biseks yang menyukai sifat kelaki-lakian seorang wanita sekaligus menyukai sifat kewanita-wanitaan pria setipe wanita yang disukainya. Terdapat pula pria biseks yang cenderung homoseks, tetapi tertarik pada wanita dengan sifat yang sama dengan pria yang disukainya.

Juga dapat ditemukan kasus di mana seorang pria homoseks bertunangan dengan seorang wanita, namun menyukai saudara pria tunangannya. Seorang wanita biseks menyukai pria yang kewanita-wanitaan juga wanita yang kelaki-lakian. Ada pula wanita homoseks bertunangan dengan seorang pria dan menyukai saudara wanita tunangannya. Demikianlah kompleksnya relasi seorang biseks, homoseks, atau heteroseks.

Menurut Bloch, perbuatan homoseksual tanpa mentalitas homoseksual disebut pseudohomoseksual. Pada homoseksual, perbuatan merupakan produk mentalitas homoseksual. Istilah pseudohomoseksual menunjukan pada perbuatan orang-orang yang tidak bersumber pada mentalitas homoseksual tetapi dilakukan berdasarkan yang di luar impuls seksual. Heteroseksual, sebagai ciri utama kepribadian mereka, tetap bertahan. Akan tetapi, di antara mereka sering terdapat biseksualitas. Homoseksual didapat (acquired) dan temporer kebanyakan termasuk dalam kategori biseksual.

Kadang-kadang, terdapat seorang homoseksual melakukan hubungan heteroseksual untuk memperoleh keuntungan. Umpamanya terdorong perasaan berterima kasih atau kasihan. Atau, karena tidak tersedia pasangan sejenis kelamin.

Dari segi psikiatri ada dua macam homoseksual, yakni homoseksual ego sintonik (sinkron dengan egonya) dan ego distonik (tidak sinkron dengan egonya). Seorang homoseks ego sintonik adalah homoseks yang tidak merasa terganggu oleh orientasi seksualnya, tidak ada konflik bawah sadar yang ditimbulkan, serta tidak ada desakan, dorongan atau keinginan untuk mengubah orientasi seksualnya.

Hasil penelitian beberapa ahli menunjukkan, orang-orang homoseksual ego sintonik mampu mencapai status pendidikan, pekerjaan, dan ekonomi sama tingginya dengan orang-orang bukan homoseksual. Bahkan kadang-kadang lebih tinggi. Wanita homoseks dapat lebih mandiri, fleksibel, dominan, dapat mencukupi kebutuhannya sendiri, dan tenang. Kelompok homoseks ini juga tidak mengalami kecemasan dan kesulitan psikologis lebih banyak daripada para heteroseks. Pasalnya, mereka menerima dan tidak terganggu secara psikis dengan orientasi seksual mereka, sehingga mampu menjalankan fungsi sosial dan seksualnya secara efektif.

Sebaliknya, seorang homoseks ego distonik adalah homoseks yang mengeluh dan merasa terganggu akibat konflik psikis. Ia senantiasa tidak atau sedikit sekali terangsang oleh lawan jenis dan hal itu menghambatnya untuk memulai dan mempertahankan hubungan heteroseksual yang sebetulnya didambakannya. Secara terus terang ia menyatakan dorongan homoseksualnya menyebabkan dia merasa tidak disukai, cemas, dan sedih. Konflik psikis tersebut menyebabkan perasaan bersalah, kesepian, malu, cemas, dan depresi. Karenanya, homoseksual macam ini dianggap sebagai gangguan psikoseksual.

Faktor biologis dan lingkungan

Mengacu pada teori penyebab homoseksual, dr. Wimpie Pangkahila menyebutkan ada empat kemungkinan penyebab homoseksual. Pertama, faktor biologis, yakni ada kelainan di otak atau genetik. Kedua, faktor psikodinamik, yaitu adanya gangguan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak. Ketiga, faktor sosiokultural, yakni adat-istiadat yang memberlakukan hubungan homoseks dengan alasan tertentu yang tidak benar. Keempat, faktor lingkungan, yaitu keadaan lingkungan yang memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis menjadi erat.

Sementara, menurut Budi, aktivis Gaya Nusantara , ada dua hal yang menyebabkan orang menjadi gay. Pertama, faktor bawaan atau gen, yaitu adanya ketidakseimbangan jumlah hormon pada diri seseorang sejak lahir. Jumlah hormon wanita cenderung lebih besar daripada laki-laki. Hal ini dapat berpengaruh pada sifat dan perilaku si laki-laki tersebut. Jati diri kewanitaan biasanya lebih kuat, sehingga mereka cenderung berperilaku feminin dan selalu tertarik terhadap aktivitas yang dilakukan wanita.

Laki-laki yang menjadi gay karena faktor tersebut biasanya tidak bisa kembali menjadi laki-laki dalam arti sebenarnya. Tapi, sifat gay tersebut bisa berkurang frekuensinya. Tentunya, diperlukan usaha yang keras. Misalnya, tidak bergaul lagi dengan kaum gay, punya keyakinan yang kuat, dan harus tahan segala godaan.

Kedua, faktor lingkungan, yaitu komunitasnya lebih sering bertemu dengan laki-laki dan amat jarang bertemu dengan wanita. Selain itu, ada juga dari mereka yang terlibat dalam kehidupan gay semata-mata karena gaya hidup dan materi. Biasanya mereka berawal dari coba-coba untuk berhubungan dengan sesama jenis dengan imbalan uang. Jenis gay ini bisa hilang bila mereka telah menemukan pasangan hidup wanita. Atau, mereka keluar akibat terkena penyakit kelamin. Dan juga, gay tersebut dapat kembali sebagai lelaki sepenuhnya bila punya komitmen kuat untuk menjauhi kehidupan gay.

Cemburu dan sukses

Dalam kehidupan sehari-hari, kalangan homoseks di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Australia, sudah berani tampil ke permukaan. Bahkan, setiap tahun mereka menggelar karnaval khusus bagi mereka. Namun, di negara berkembang, termasuk Indonesia, mereka masih malu-malu kucing untuk tampil terbuka dan memproklamasikan diri sebagai homoseks. Hanya beberapa orang yang secara terang-terangan mengaku sebagai homoseks.

Meski begitu, komunitas ini memiliki tempat-tempat tertentu, di seluruh Indonesia, untuk saling bertemu. Di sanalah mereka ngeber (mejeng, mangkal, ngumpul-ngumpul, Red.). Seperti halnya kalangan heteroseks, dalam berelasi mereka mengenal perasaan cemburu dan depresi jika pasangan homonya berbuat serong dengan orang lain. Perasaan cemburu dan depresi ini dapat sedemikian besarnya sehingga yang merasa ditinggalkan dapat bunuh diri akibat depresi. Malah bisa pula membunuh pasangannya yang berselingkuh tadi. Kasus macam ini umumnya terjadi pada pasangan gay, walaupun bukan tak mungkin terjadi pada pasangan lesbian. Seorang lesbian yang berperan sebagai suami (the butch) dapat membunuh seorang pria heteroseksual yang merampas pasangannya.

Perilaku macam itu bisa dipahami karena mereka manusia biasa seperti kaum heteroseks. Homoseksual bukanlah penyakit. Homoseksual hanyalah salah satu bentuk orientasi seksual seseorang. Yang pasti, menjadi gay bukan suatu ’mimpi buruk’ dan menjadi gay juga bukan kesalahan siapa-siapa. Gay hanyalah masalah orientasi seksual, sedangkan dalam kehidupan, kita tetap manusia yang bisa berpikir, berkarya, dan berprestasi seperti manusia-manusia lain. Tak heran bila seorang gay atau lesbian sukses di profesi masing-masing. Ada yang menjadi seniman, penyiar televisi, dosen, pengusaha, atau bahkan menteri.

MENJADI GAY ADALAH PILIHAN HIDUP

Zaman sekarang, gay sudah tidak lagi langka. Sebagian dari mereka pun sudah tidak lagi sungkan menunjukkan identitasnya sebagai pecinta sesama jenis. Maka, dengan mudah kita bisa menjumpai sepasang pria yang bergandengan tangan mesra di mal, bahkan berciuman di klub malam. Atau setidaknya, berapa banyak pria yang berani menindik salah satu sisi telinga - saya kurang tahu persis sisi kanan atau kiri - yang secara tidak langsung mengatakan bahwa :”Saya gay”?

Walau demikian, tidak semua orang bisa menerima kehadiran mereka di tengah masyarakat. Kaum religius beranggapan, mereka berdosa dengan menjadi seorang gay. Anggapan ini didasari oleh keyakinan bahwa Tuhan tidak menciptakan gay. Apalagi, di dalam kitab suci, gay jelas dilarang. Saya sendiri akhirnya menemukan beberapa ayat dalam kitab suci yang saya yakini, bahwa hubungan intim sesama jenis adalah dosa. Bahkan Tuhan menghukum Sodom dan Gomora – kisah yang dapat kita temukan dalam kitab Taurat – pun karena penduduknya melakukan aktivitas homoseksual!

Saya tidak akan menggunakan dalil kitab suci tersebut sebagai dasar pribadi untuk menolak gay. Memang, saya percaya bahwa Tuhan tidak menciptakan gay, walaupun ada orang tertentu yang lahir dengan kelainan kromosom sehingga tidak jelas jenis kelaminnya. Saya tetap berkeyakinan, menjadi gay adalah pilihan hidup seseorang. Tetapi itu bukan alasan untuk mendiskreditkan mereka. Menurut saya, kita juga harus belajar memahami mengapa mereka memilih menjadi gay. Ilmu kedokteran juga membuktikan bahwa sebenarnya semua orang punya kecenderungan mencintai sesama jenis, hanya kadarnya saja yang berbeda-beda. Kadar itu bisa bertambah atau berkurang, sesuai pengalaman hidup yang diperoleh seseorang.

Bisa jadi, waktu kecil mereka pernah menerima kekerasan seksual dari orang dewasa, seperti disodomi. Karena itu, mereka mengira bahwa sodomi adalah aktivitas seksual yang benar. Dan akhirnya mereka mengulangi tindakan itu dengan sesama pria saat mereka dewasa. Atau mungkin saja selama ini mereka hidup dalam penjajahan lawan jenis. Ibu yang dominan, saudara perempuan yang bossy. Maka mereka justru menemukan kasih sayang yang sejati dari sesama pria. Dunia ini punya terlalu banyak cerita, terlalu banyak kemungkinan. Masih banyak pula kemungkinan-kemungkinan mengapa orang menjadi gay, yang tidak dapat saya rinci satu persatu.

Karena itu, menurut saya, tidak patut bila kita menghakimi kaum gay. Kita tidak pernah tahu apa yang melatarbelakangi keputusan hidup mereka itu, bukan? Tidak adil bila kita lantas mengucilkan mereka dari pergaulan. Justru tindakan semacam itu hanya akan membuat mereka semakin nyaman dalam komunitas gay yang menerima mereka apa adanya. Mereka yang mungkin masih punya keinginan untuk membina keluarga dengan lawan jenis, akhirnya malah melupakan keinginan itu karena sikap kita yang menjauhi mereka.

Kalau kita memang ingin suatu saat mereka bisa menjadi pria heteroseksual, kita harus belajar menerima sambil berusaha menyelami dunia mereka. Siapa tahu kita bisa menemukan akar masalah yang membuat mereka menjadi gay. Dengan demikian, mungkin kita dapat memberi terapi yang tepat untuk mengurangi kadar gay mereka. Apalagi, kalau sebenarnya teman kita itu punya keinginan untuk menjadi pria pecinta lawan jenis. Saya sendiri, sebagai perempuan, sebenarnya juga ingin pria-pria gay bisa menjadi heteroseksual. Jumlah pria dibandingkan perempuan sudah tidak imbang. Akan lebih banyak perempuan yang harus melajang atau menjadi istri kesekian bila ingin berkeluarga, karena pria-pria yang jumlahnya sedikit itu pun sibuk mencintai sesama jenis.

Tetapi tetap, kita harus menghargai keputusan mereka untuk menjadi gay. Banyak gay yang nyaman dengan statusnya, dan tidak ingin mencintai lawan jenis, sekalipun mereka tahu bahwa mereka bisa saja menjadi pria heteroseksual. Yang bisa kita lakukan menghadapi gay seperti ini adalah tetap menerima mereka sebagai sahabat. Hidup mereka adalah milik mereka sendiri, kita tidak berhak mengintervensi, bagaimanapun hubungan kita dengan mereka. Toh mereka sudah siap dengan segala resiko menjalani kehidupan gay. Soal hubungan dengan Tuhan, itu juga urusan pribadi mereka dengan-Nya. Banyak gay yang tetap rajin beribadah, bahkan mungkin lebih rajin daripada kita yang mengklaim diri ‘normal’.

Apalagi, menurut saya, seorang gay bisa menjadi sahabat terbaik bagi kaum perempuan. Karena mereka memiliki sosok pria yang melindungi, sekaligus sisi perempuan yang lembut dan sensitif. Kekayaan karakter seperti ini jarang bisa ditemukan pada pria/perempuan heteroseksual. Mungkin mereka memang tidak bisa dinikahi oleh perempuan, tetapi tidak ada ruginya melajang bila memiliki sahabat yang setia seumur hidup.

Gay juga bisa sukses, bila mereka bisa memberdayakan potensi dirinya. Lihat saja berapa banyak gay yang berhasil menjadi perancang busana ternama, atau perias wajah terkemuka. Mereka bahkan lebih mapan secara finansial daripada pria-pria yang dianggap ‘normal’ oleh masyarakat.

Akhirnya, saya ingin menekankan bahwa tidak adil bila kita menghakimi seseorang, hanya karena keputusan hidupnya yang berbeda dari kebanyakan orang. Gay juga manusia, yang butuh teman, butuh penerimaan. Tindakan mengucilkan dan mengolok-olok mereka hanya akan membuat kita terlihat sebagai manusia yang picik dan rendah, yang tidak bisa menerima perbedaan dan keyakinan orang lain.

STUDI GAY DAN LESBIAN

STUDI GAY DAN LESBIAN

Sejak peristiwa Stonewall tahun 1969 (pembangkangan kaum homoseksual untuk memperjuangkan hak-haknya) dan bersamaan dengan gelombang kedua gerakan perempuan, homoseksualitas segera menjadi gerakan yang nyata. Tidak lagi takut-takut, tidak lagi tersembunyi. Sekaligus ia mulai dipertimbangkan sebagai bahan kajian studi. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, homoseksual dipelajari dari jarak yang objektif, tepatnya selalu dilihat dari perspektif heteroseksual. Sampai kemudian muncul generasi baru akademikus homoseksual muda yang mulai ambil peranan dalam studi ini. Mereka mempelajari homoseksualitas dengan penuh semangat empati. Ken Plummer dalam kata pengantarnya untuk buku Modern Homosexualities (1992) mengatakan bahwa tulisan-tulisan tentang gay dan lesbian yang muncul sebelum tahun 1970-an tampak seperti sedang mencari pengertian diri. Beberapa bahkan bernada destruktif dan bersikap negatif terhadap hidup. Singkatnya, ia menyebabkan orang-orang benar-benar percaya bahwa mereka (gay dan lesbian) adalah termasuk golongan orang-orang sinting dan kesepian di dunia ini. Tapi keadaan kemudian berubah dengan cepat. Sekarang tidak hanya jumlah buku tentang gay dan lesbian yang berlipat ganda (pada tahun 1969 tercatat hanya 500 judul buku, tapi pada tahun 1989 sudah melonjak menjadi 9000 judul buku), tapi juga jangkauan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang lebih luas, penerapan berbagai disiplin ilmu yang semakin beraneka ragam, dan tentu saja jumlah pembaca yang semakin luas. Bersamaan dengan lahirnya publikasi-publikasi awal yang radikal tentang gay dan lesbian, berlangsung pula perkembangan-perkembangan penting yaitu pelembagaan studi gay dan lesbian sebagai lapangan akademik profesional. Lambat laun bidang studi ini sudah mempunyai PhD-PhD sendiri, bahan-bahan bacaan khusus, profesor-profesor, pusat-pusat studi, konferensi-konferensi, dan mulai dijadikan mata kuliah di universitas. Pada tahun 1970-an, bidang studi ini secara internasional dikenal luas dan mulai bisa dibandingkan dengan perkembangan studi perempuan atau studi etnisitas atau ras, meskipun tentu saja ukurannya masih lebih kecil karena lebih banyak stigma-stigma yang dikenakan di situ. Universitas-universitas dan college-college terkemuka seperti Harvard, Princeton, Yale, Berkeley, MIT, Duke, Nottingham Trente University, mengadakan kuliah- kuliah tentang gay dan lesbian secara tetap. Universitas Utrecht bahkan mempunyai Pusat Studi Gay dan Lesbian.

Konferensi-konferensi internasional tentang gay dan lesbian telah diadakan di Toronto, Denmark, London, New York, dan Amsterdam. Di beberapa negara bahkan ada usaha-usaha yang lebih awal untuk memantapkan kajian studi ini. Beberapa yang bisa disebut disini adalah: Hirshfeld's Institute di Jerman pada tahun 1920-an, beberapa pusat-pusat studi di Belanda, juga Institute for Homophile studies di Amerika, sebuah universitas alternatif yang pernah menerima lebih dari 1000 mahasiswa pada tahun akademik 1957-1958. Kemapanan kajian studi gay dan lesbian juga ditandai dengan kelahiran jurnal-jurnal ilmiah bidang ini. Journal of Homosexuality pertama kali dipublikasikan pada tahun 1974 dan mengupas berbagai isu seperti remaja-remaja gay, orang-orang tua gay, dan lain-lain. Jurnal-jurnal lain yang banyak mengupas persoalan-persoalan gay dan lesbian adalah Journal of Gay and Lesbian Psychotheraphy, Journal of The History of Sexuality, European Gay Review, Lesbian Ethics, Signs, Feminists review, TRIVIA: A Journal of Ideas, atau Sexualities . Tulisan-tulisan pertama yang muncul di luar universitas seringkali berupa artikel-artikel pendek di koran tentang kehidupan gay dan lesbian atau pamflet-pamflet kampanye. Buku-buku kumpulan artikel tersebut misalnya The Homosexual Dialectic, The Gay Liberation Book, The Lesbian Reader, atau A Lesbian Feminist Anthology. Kondisi di Indonesia sekarang mungkin bisa disamakan dengan keadaan diatas. Sampai saat ini di Indonesia belum banyak muncul literatur-literatur kajian studi tentang gay dan lesbian. Wacana tentang gay dan lesbian di negara ini hanya muncul secara rutin misalnya lewat majalah atau media-media intern perkumpulan-perkumpulan gay dan lesbian semacam Gaya Nusantara. Belum ada kaum akademikus di Indonesia yang mengkhususkan diri menulis tentan fenomena gay dan lesbian. Salah satu usaha penting untuk membawa wacana homoseksualitas di Indonesia ke tingkat yang lebih akademis adalah tulisan Dede Oetomo "Homoseksualitas di Indonesia" di Prisma (Juli 1991). Setelah itu belum ada lagi sesuatu yang penting dalam perkembangan studi gay dan lesbian di Indonesia. * * * Ada dua terma utama dalam wacana homoseksualitas modern, yaitu: 'closet' (kloset) dan 'coming out' (keluar). Term 'kloset' digunakan sebagai metafor untuk menyatakan ruang privat atau ruang subkultur dimana seseorang dapat mendiaminya secara jujur, lengkap dengan keseluruhan identitasnya yang utuh. Sedangkan term 'coming out' digunakan untuk menyatakan ekspresi dramatis dari 'kedatangan' yang bersifat privat atau publik. Pemakaian term 'closet' dan 'coming out' disini bermakna sangat politis. Narasi 'coming out of the closet' menciptakan pemisahan antara individu-individu yang berada didalam dan diluar kloset. Kategori yang pertama diberi makna sebagai orang-orang yang menjalani hidupnya dengan kepalsuan, tidak bahagia, dan tertekan oleh posisi sosial yang diterima dari masyarakat. 'Kloset' kemudian bermakna strategi akomodasi dan pertahanan yang diproduksi untuk menghadapi norma-norma masyarakat heteroseksual di sekitarnya. 'Closet Practice' adalah respon terhadap strategi represif yang diterapkan oleh masyarakat heteroseksual untuk mengeluarkan homoseksual dari kehidupan masyarakat. Strategi ini mulai dilakukan pada tahun 1940-an, tapi kemudian mulai diintensifkan pada tahun 1950-an dan 1960-an. Hal ini memantapkan posisi 'kloset' sebagai konsep identitas seksual yang berbeda dan sebagai sebuah simbol kehidupan ganda. Para teorisi di bidang ini misalnya adalah Dennis Altman, Ken Plummer, Mary McIntosh, Gayle Rubin, dan Jefrey Weeks. Dennis Altman menulis Homosexual:

Liberation/Oppression (1971) yang lantas menjadi bahan perdebatan sampai 20 tahun berikutnya. Ia menyoroti penciptaan identitas baru dengan kelahiran gerakan lesbian dan gay, perbedaannya dengan masa lalu dan identitas politik mereka. Studi ini lantas berkembang lebih jauh dengan penggabungan-penggabungan atau persilangan antara studi gay dan lesbian dengan berbagai disiplin ilmu yang lain. Pada tahun 1970-an, psikologi, sosiologi, dan sejarah menjadi kajian yang berpengaruh. Di bidang psikologi, Freedman menulis Homosexuals May Be Healthier Than Straights (1975). Ia menyatakan bahwa homoseksual adalah sesuatu yang normal, sama seperti orang-orang lain, dan mungkin bahkan lebih sehat dari kaum heteroseksual. Freedman kemudian juga memperkenalkan konsep utama 'homophobia' yang kemudian dilanjutkan dalam karya-karya Lesbian Psychologies (Boston Lesbian Psychologies Collective, 1987) dan Lesbianism:Affirming Non Traditional Roles (Rothblum & Cole, 1989). Topik penting yang dibahas dalam sosiologi adalah mengubah fokus dari memandang homoseksual sebagai salah satu tipe individu ke respon sosial terhadap homoseksualitas, yaitu perubahan konstruksi sosial homoseksualitas secara radikal. Karya-karya penting yang membahas topik ini misalnya: Sexual Stigma: An Interactionist Account (Ken Plummer, 1975), The Construction of Homosexuality (Greenberg, 1988), atau Forms of Desire:Sexual Orientation and The Social Constructionist Controversy (Stein, 1990). Perdebatan tentang tema ini terutama dipercepat oleh terbitnya seri History of Sexuality yang sangat berpengaruh karya Michel Foucault. Dalam bidang sejarah bisa disebut buku karya Herdt yang berjudul Ritualized homosexuality in Melanesia (1984), Passions Between Women (1993) karya Emma Donoghue yang membahas kebudayaan lesbian di Inggris tahun 1668-1801, atau The Wilde Century (1994) karya Alan Sinfield yang membahas tentang kehidupan gay Oscar Wilde yang hidup di masa Victorian di Inggris. Mulai sepanjang tahun 1980-an ada perubahan tren dalam studi gay dan lesbian, yaitu perhatian yang besar kepada cultural studies dan persoalan AIDS.

Persoalan AIDS dalam studi gay dan lesbian menjadi penting karena penyakit ini seringkali digunakan sebagai alat politis untuk menempatkan gay dan lesbian dalam posisi yang merugikan. Dan dalam beberapa hal terbukti bahwa menyerang kaum gay dan lesbian lewat isu kesehatan cukup ampuh, karena masyarakat biasanya dengan mudah membenarkan kekhawatiran terhadap penyakit serius semacam AIDS ini. Perhatian yang besar terhadap cultural studies bisa terlihat dari berkembangbiaknya studi-studi kebudayaan gay dan lesbian dalam segala bentuk: film, TV, novel, karya-karya fiksi, biografi, musik, karya-karya seni, dan bentuk-bentuk kebudayaan populer lainnya. Bonnie Zimmerman misalnya menganalisa 200 karya fiksi lesbian yang dipublikasikan mulai tahun 1969-1989 dalam karyanya yang berjudul The Safe Sea of Women . Dengan perspektif yang sama Richard Dyer berusaha melacak perkembangan genre film-film gay dan lesbian dalam Now You See It (1991). Bidang-bidang klasik lain dalam studi-studi lesbian dan gay modern adalah tentang komunitas dan persoalan identitas gay, seksualitas, pornografi, juga perubahan dan pergeseran konsep keluarga heteroseksual dengan adanya fenomena gay dan lesbian yang memelihara anak-anak mereka sendiri.



LIKU_LIKU KEHIDUPAN GAY

Homoseksual berasal dari bahasa Yunani, “homo” berarti “sama” dan bahasa Latin “sex” berarti “seks”. Istilah homoseksual diciptakan tahun 1869 oleh Dr Karl Maria Kertbeny, seorang dokter berkebangsaan Jerman-Hongaria. Istilah ini disebarluaskan pertama kali di Jerman melalui pamflet tanpa nama. Kemudian penyebarannya ke seluruh dunia dilakukan oleh Richard Freiher Von Krafft-Ebing di bukunya “Psychopathia Sexualis”.[1]. Menurut para ahli, homoseksualitas bukanlah suatu penyakit, melainkan suatu kelainan seksual.[2]

Berapakah jumlah kaum gay? Menurut penelitian Alfred Kinsey (1948, 1953) di Amerika Serikat, jumlah persentase gay dan lesbian (waria tidak dihitung) adalah sebanyak 10% dari total penduduk negara tersebut.[3]

Bagaimana di Indonesia? Apabila kita pakai rumus ini, maka jumlah gay dan lesbian di Indonesia sekitar 20 juta orang. Tetapi untuk masyarakat di Indonesia, problemnya adalah identitas: tidak semua orang yang melakukan hubungan sesama gender atau dengan waria mengidentifikasi diri sebagai gay atau lesbian (bahkan yang berhubungan dengan waria tidak beridentitas apa-apa). Kalau identitas radar-penuh gay/lesbian/waria dipakai sebagai dasar perhitungan, menurut perkiraan sekitar 1% penduduk yang demikian: jadi jumlahnya sekitar 2 juta orang.

Namun kalau kita pakai perhitungan cara Kinsey (pernah melakukan hubungan seksual dengan sesama lelaki, setidak-tidaknya sekali), maka jumlahnya bisa mencapai 53%. Untuk Indonesia, ini berarti angkanya sekitar 53 juta lelaki. Kaum waria biasanya mengatakan, kalau perilaku seksual lelaki-waria yang dipakai sebagai dasar perhitungan, persentasenya bisa mencapai 90%, khususnya pada kelas pekerja. Ini berarti dari sekitar 190-an juta kelas pekerja, dengan asumsi separuhnya adalah perempuan (95 juta), maka 85,5 juta lelaki Indonesia pernah atau akan pernah melakukan hubungan seks dengan waria atau yang dianggap waria (termasuk di sini gay atau lelaki biasa).[4]

Menurut www.manjam.com, sebuah situs khusus gay, jumlah gay yang terdaftar di web tersebut di kota Jakarta saja sebanyak 3000 orang.[5] Sedangkan hasil survey YPKN (Yayasan Pelangi Kasih Nusantara) menunjukkan, ada 4.000 hingga 5.000 penyuka sesama jenis di Jakarta. Menurut Ridho Triawan, pengurus LSM Arus Pelangi, sebuah yayasan yang menaungi lesbian, gay, waria dan transjender, setidaknya ada 5000 gay serta lesbian yang hidup di Jakarta[6]. Secara kalkulasi, pakar seksualitas Dr Boyke Dian Nugraha sempat mencatat bahwa frekuensi kaum gay yang murni adalah satu dari 10 pria.[7] Sedangkan Gaya Nusantara[8] memperkirakan, 260.000 dari enam juta penduduk Jawa Timur adalah homo. Angka-angka itu belum termasuk kaum homo di kota-kota besar. Dr. Dede Oetomo memperkirakan, secara nasional jumlahnya mencapai sekitar 1% dari total penduduk Indonesia. Kalau asumsi Dr Dede Oetomo benar, tentunya itu sebuah angka yang membelalakkan mata.[9]

Jika kita berasumsi bahwa data di atas adalah benar, berarti kita selama ini sudah hidup dan bermasyarakat cukup lama dengan kaum gay di Indonesia. Mereka ada di tengah-tengah kita.

Pertanyaan selanjutnya muncul, bagaimana sebenarnya eksistensi mereka di kota-kota besar, seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya dan lainnya? Bagaimana seluk-beluk kehidupan mereka? Bagaimana sikap masyarakat di sekitar mereka ketika menyadari bahwa mereka adalah seorang gay?

Sejarah Singkat

Keberadaan kaum gay adalah fakta. Mereka adalah sebuah realita abad 21. Kini mereka mulai berani memunculkan diri di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Sebenarnya, kemunculan mereka di Indonesia dimulai sekitar tahun1920-an[10]. Pada tahun itu, komunitas homoseks mulai muncul di kota kota besar Hindia Belanda.[11] Sayang penulis tidak mempunyai info lebih detail mengenai nama-nama komunitasnya. [12]

Waktu pun berlanjut. Di Jakarta pada tahun 1969, organisasi wadam (baca: gay) pertama, Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD) berdiri difasilitasi oleh Gubernur DKI Jakarta Raya, Ali Sadikin.[13]

Tanggal 1 Maret 1982, organisasi gay terbuka pertama di Indonesia dan Asia, Lambda Indonesia, berdiri, dengan sekretariat di Solo. Dalam waktu singkat terbentuklah cabang-cabangnya di Yogyakarta, Surabaya, Jakarta dan tempat tempat lain. Terbit juga buletin G: gaya hidup ceria (1982-1984).[14] Akibat dari munculnya organisasi Lambda Indonesia, di tahun1992, terjadi ledakan berdirinya organisasi-organisasi gay di Jakarta, Pekanbaru, Bandung dan Denpasar. Juga di tahun 1993 Malang dan Ujungpandang menyusul.[15]

Pada tahun-tahun selanjutnya, kaum gay makin banyak mendirikan organisasi dan komunitas, hanyasaja belum berani unjuk diri secara terang-terangan ke masyarakat Indonesia. Namun, akhir-akhir ini fakta itu bergeser. Pasalnya, acara-acara TV yang menampilkan sosok gay semakin banyak. Kebanyakan dari mereka muncul untuk “menginformasikan” kehidupan kaum gay kepada masyarakat.

Salah satunya acara Empat Mata yang dibintangi oleh komedian Tukul Arwana. Pada tanggal 16 Mei 2007, Empat Mata menghadirkan seorang gay yang bernama Dede.[16] Dede hadir menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar dunia gay.[17]

Pemunculan Dede ini dinilai oleh sebagian pihak sebagai tanda-tanda bahwa masyarakat Indonesia mulai menerima kehadiran kaum gay, atau setidaknya mulai tumbuh rasa ingin tahu tentang kehidupan kaum gay.[18]

2.2 Kehidupan Kaum Gay Jakarta

Jakarta sebagai kota metropolitan menawarkan kehidupan yang sangat menarik. Mulai dari narkoba sampai buku-buku agama, mulai dari mal-mal megah sampai perhiasan berharga jutaan rupiah. Beragam komunitas pun ada disini, mulai dari aktivis lingkungan sampai mafia internasional. Begitu pula dengan kaum gay, mereka pun “mengambil tempat” di Jakarta. Mereka membuat komunitas sendiri yang ekslusif (dalam arti hanya khusus kaum gay).

Sebenarnya, kehidupan kaum gay tidak berbeda dengan apa yang biasa kita sebut “kaum normal”. Mereka makan, minum dan kadang terluka. Yang membedakan kaum gay dengan kaum heteroseks hanya orientasi seksualnya. Selebihnya, tidak ada perbedaan.[19]

Seperti masyarakat umumnya, kaum gay pun mempunyai strata sosial, apalagi di Jakarta, strata sosial ini terlihat lumayan jelas. Khusus di kalangan gay, pembagian kelas tampak pada tempat ngeber[20], cara berpakaian dan berasesoris, yang semuanya berawal pada kombinasi tingkat penghasilan dan aspirasi kelas mereka.[21]

Kaum gay yang low class biasanya ngeber di diskotik-diskotik murah dan tidak terkenal. Sedangkan kaum gay yang high class biasanya lebih menginginkan sutu private party. Dengan private party itu mereka bisa membuat acara sebandel mungkin, sebebas mungkin, dan tentunya sesuai dengan keinginan mereka.

Bahkan saat ini ada Event Organizer (EO) yg khusus membuat konsep acara seperti apa yang menjadi keinginan konsep pesta “gila” mereka. EO ini melayani jasa membuat konsep pesta untuk kaum gay. Bahkan EO ini juga melayani jasa resmi dan formal seperti gathering, wedding dan exhibition.[22]

Walau pasti menelan biaya mahal, mereka seolah tidak peduli. Yang mereka cari adalah kesenangan, kenikmatan diri sendiri, mencari arti dari kesenangan untuk dirinya. Karena bagi kaum homo seolah sulit untuk mendapatkan kenikmatan dan kepuasan diri yang notebene adalah kepuasan seksual dengan sejenis mereka. Sebebas apapun tetap saja mereka harus sembunyi-sembunyi untuk memperolehnya.

Lagipula, alasan mereka membuat pesta dan dugem sendiri adalah karena di tempat umum, belum tentu semua orang menerima kaum gay. Ada beberapa orang yang ketika kaum gay datang ke diskotik, mereka akan membuang muka atau mendengus jijik. Walau kaum gay berprinsip “nggak usah peduli apa kata orang”, hal ini tetap saja membuat membuat mereka tidak nyaman. Dari situlah, kemudian mereka membuat tempat dugem khusus kaum gay.[23]

Di Jakarta sendiri, ada beberapa tempat ngeber dan dugem khusus kaum gay[24]. Yaitu diantaranya:

1. Lap.Banteng (BT), campur, malam, komersial.

2. Tugu/Gelanggang Senen, campur, malam, komersial.

3. Bioskop Grand Duta/Mulya Agung (Grand/MA), persimpangan Jln Kramat Raya-Kwitang, campur, siang & malam.

4. Terminal Bus Senen (kamar mandi 'Si Unyil'), campur, komersial.

5. Dangdut Senen. sebelah gelanggang Senen/seberang terminal bus, campur, komersial.

6. Cililitan (Cili-terminal lama), di sekitar terminal lama, campur, malam Minggu.[25]

7. Gedung Bioskop Cinere, di lobi, mayoritas brondong, malam.

8. Ciputat-Gedung bioskop Sahara, di pelataran, mayoritas brondong, malam.

Kolam renang Ancol (di bawah 'Air Terjun'). Minggu sore.

9. Sogo. Plaza Indonesia. Hotel Grand Hyatt, bundaran HI, mayoritas brondong, siang & malam.

10. Pasaraya Big & Beautiful Blok M, toilet lantai dasar/pintu masuk parkir, campur, siang & malam.

11. Blok M Plasa/Terminal Kebayoran Baru, mayoritas brondong, siang & malam.

12. Atrium/Segitiga Senen,. depan Studio 21, mayoritas brondong, siang & malam.

13. Metro Kafe, Puri Indah Mal Lt.1, 10.00-21.00 WIB.

14. Kebanyakan Disko di Jakarta adalah tempat mangkal gay.

15. Tanamur (disko), Jln Tanah Abang,Kamis malam banyak gay, Minggu malam lines, campur, komersial.

16. The New Moonlight (ML), persimpangan Hayam Wuruk-Mangga Besar, Rabu malam & Sabtu malam Minggu, gay & lines.

17. Kasturi Diskotik, Jln Mangga Besar Raya 10 E, Senen malam Selasa, Gay Night, 22.00 WIB-selesai.

18. Furama Pub & Diskotik, Jln Hayam Wuruk Raya 75 (sebelah Holland Bakery), Selasa malam Rabu, Gay Night, 22.00 WIB-selesai.

Mereka kadang janjian lewat telepon, lalu ketemuan di tempat-tempat di atas. Setelah mengobrol beberapa jam, kadang mereka menyewa hotel untuk melakukan hubungan intim. Dalam hal ini, tempat ngeber mereka berfungsi sebagai tempat janjian. Namun, sering juga tempat ngeber mereka dijadikan tempat untuk berbagai perlombaan/kontes.[26]

Biasanya, kalau mereka ingin ngeber, mereka akan datang dengan baju necis, mahal, membawa mobil pribadi dan berpenampilan bak selebritis. Biasanya mereka yang seperti ini berarti sudah saling mengenal.[27]

Namun bagi kaum gay yang malu-malu, dunia maya menjadi salah satu alternatif untuk mencari pasangan. Ferdi, sapaan karib Ferdinand, salah satu gay Jakarta, tak memungkiri bahwa www.friendster.com sudah menjadi ajang mencari jodoh. Ferdi mengaku, dari kenal di Friendster, kemudian dilanjutkan dengan E-Mail (surat elektronik). "Akhirnya telpon-telpon dan ketemuan deh," kata Ferdi.[28] Selain Friendster, situs lain yang sering dijadikan tempat chatting kaum gay adalah Yahoo! Messenger[29]. Selain itu, kaum gay juga membuat situs pertemanan sendiri (khusus kaum gay), diantaranya adalah www.gayanusantara.org, www.sobatan.com, dan www.manjam.com.[30]

Memang kehidupan kaum gay Jakarta identik dengan kehidupan malam. Hal ini karena di kehidupan siang hari, di Indonesia, mereka masih belum bisa menemukan kebebasan. Sebagian masyarakat masih ada yang membenci mereka sehingga membuat mereka tidak bisa bergerak leluasa.

2.3 Bahasa Gaul Kaum Gay Jakarta

Kaum gay Jakarta –seperti masyarakat umumnya- mempunyai istilah-istilah tersendiri dalam percakapan, atau bisa disebut bahasa gaul (baca: khusus untuk kaum gay). Bahasa ini umumnya mereka pakai ketika mereka sendiri beridentitas sebagai gay, atau ketika bertemu dengan kaum gay lain dan sedang ngeber.

Dalam menciptakan bahasa gaul ini, kaum gay tidak terikat satu aturan tertentu. Bagi mereka yang penting adalah nikmat dan jadi. Di bawah ini adalah penjelasan singkat bagaimana kreativitas bahasa itu diekspresikan dalam keberagaman cara dan metode modifikasi, [31] diantaranya yang disebut sebagai bahasa "binan".[32]

1. Bentuk modifikasi regular

o Tambahan awalan "si"

Awalan "si" biasanya digunakan oleh waria di Jawa Timur. Cara pengunaannya dengan menambahkan kata "si" pada setiap kata yang digunakan dengan terlebih dahulu memenggal suku kata pertama dari suku kata belakang, sehingga menghasilkan bunyi baru. Syaratnya, setiap kata modifikasi tesebut harus berakhir dengan huruf konsonan.

Cara pembentukan: lanang (jw. laki-laki) dipenggal menjadi lan + ang. Kemudian pada kata lan di depannya diberi awalan "si", sehingga menjadi kata silan, yaitu "si" + lan.

Contoh lain:

wedhok (jw. Perempuan) -> siwed ("si"+wed)

Makan -> simak("si" + mak)

Pergi -> siper("si" + per)

o Tambahan akhiran "ong"

Penambahan akhiran "ong" adalah modifikasi sederhana lain yang Bering juga digunakan. Penggunaannya dengan menyesuaikan/mengasimilasi setiap suku kata terakhir dalam bahasa keseharian dengan bunyi "ong" dan setiap huruf vokal suku kata pertama menjadi bunyi e.

Cara pembentukan: Kata "banci", suku kata ban- dirubah bunyinya menjadi "ben", sedangkan suku kata akhir (ci) diasimilasikan dengan akhiran "ong" sehingga menjadi kata "cong". Jika kedua suku kata digabung (ben + cong) berubah menjadi kata "bencong".

Contoh lain:

laki -> lekong (la+ ki -> le +kong)

Makan -> mekong (ma + kan -> me + kong)

Homo -> hemong (ho + mo -> he + mong)

o Tambahan akhiran "es" atau 'i'

Kaidah yang berlaku dalam penambahan akhiran "es" hampir sama dengan modifikasi dengan akhiran "ong", kecuali pada penambahan suku kata akhir disesuaikan dengan bunyi "es" atau "i". Sehingga kata "band" bisa dimodifikasi menjadi kata "bences" atau "benci".

Contoh lain: lekes atau leki (la+ ki -> Le + kes atau ki) jalan -> jeles atau jeli (Ja+ lan -> je + les atau li)

o Tambahan sisipan "in"

Dibanding dengan modifikasi regular lainnya, sisipan "in" sedikit lebih sulit dalam penerapannya. Dalam modifikasi dengan sisipan "in", setiap suku kata dibagi diasimiliasikan dengan sisipan bunyi "in".

Cara pembentukan:

Misalnya kata "banci", suku kata awal ban dipisahkan dengan suku kata akhir ci, sehingga menjadi dua bunyi yang benar-benar terpisah. Kata ban dan ci disisipi dengan kata "in" sehingga berbunyi "binan cini'.

Contoh lain:

lesbi -> lines bini (les+ bi -> lines+ bini) homo -> hino mino (ho+ mo -> hino+ mino)

2. Bentuk modifikasi irregural

o Dengan memberi makna beda pada istilah kata umum. Jenis kata plesetan ini dibentuk dengan berbagai alasan antara lain bisa dikarenakan kesamaan sifat atau karakter antara dua kata atau bisa dikarenakan semata-mata oleh kesamaan bunyi. Untuk yang kata ganti yang digunakan karena analogi karakter bisa ditemui antara lain pada kata-kata berikut ini; "jeruk" (pemeras), "idealisme" (idiot), "bawang" (bau), "cuci WC" (menjilati dubur, analingus), "madonna° (matre), dll. Sedangkan plesetan kesamaan bunyi antara lain; "sandang" (sana), " "bandana" (bandit), "cumi-cumi" (berciuman) dll.

o Plesetan Singkatan kata-kata umum

Misalnya:

"BBC" atau "bibisi" (becak, tukang becak)

"mojokerto" (mojok)

"texas" (terminal)

"California" (pinggir kali)

dll.

o Kata-kata yang khusus, istilah yang hanya ditemukan dalam kalangan gay. Kata-kata yang dalam pengertian bahasa lain terdengar tidak ada makna.

Misal; "akika" (aku)

"diana" (dia)

"amir" (amat, sangat)

"cik pin" (pincang)

"la nina" (lanang)

"habibah" (habis)

"lucy-lucy" (elus-elus)

"metelek" (gay yang baru bercinta)

dll.

o Istilah=Istilah atau Singkatan

Misal:

"ADIIYA" (Adu titit saja)

"BAKSO" (Badannya seksi sekali bo!)

"HANDOKO" (Hanya doyan kontol)

"P&G" (Penjong & gedong), "UMNO" (Urusan Meong Number One) dll.

(Catatan: Aturan-aturan tersebut tidak selalu berlaku secara terpilah-pilah, kadang-kadang dalam satu kata bisa terjadi merupakan dua cara plesetan sekaligus).

2.4 Tanggapan Masyarakat dan Pemerintah serta Diskriminasi Terhadap Kaum Gay

Secara umum, perubahan nilai sosial dan cara pandang masyarakat saat ini cukup bisa menerima komunitas kaum gay. Walaupun baru hanya sebagian lapisan masyarakat saja.[33] Bahkan, ada juga kaum heteroseksual yang bergiat di LSM gay. Mereka bukan gay, tapi mereka peduli terhadap gerakan gay.[34] Direktur Arus Pelangi Jakarta, Rido Triawan, mengatakan, sebanyak 30% anggota Arus Pelangi merupakan kaum heteroseksual.[35] Padahal Arus Pelangi adalah LSM khusus gay.

Walau begitu, masyarakat yang menolak kaum gay juga ada, bahkan itulah yang mayoritas. Mereka terdiri dari beragam latar belakang, mulai dari organisasi agama, sosial, sampai pendidikan.[36]

Orang yang membenci kaum gay biasa disebut Homophobia.[37] Reaksi kaum Homophobia apabila bertemu gay ataupun berada di lingkungan gay adalah merasa tidak tenang, gelisah, khawatir, takut tertular “penyakit homoseksual”[38], merinding dan tidak sedikit yang langsung kabur dan menjauh[39]. Namun ada juga kaum Homophobia yang sampai mengisolasi dan memprovokasi masyarakat untuk menjauhi kaum gay.

Berbeda dengan kaum waria yang merasa sangat didiskriminasikan oleh pemerintah, pada umumnya pemerintah jarang sekali membuat pernyataan melecehkan atau mendiskriminasi kaum gay, walau tetap ada beberapa pengecualian, salah satunya adalah perkawinan sejenis.[40] Namun, untuk masalah yang satu ini, kaum gay terus melobi pemerintah supaya pemerintah mau melegalkan perkawinan sesama jenis. Seperti diketahui, Indonesia hanya memperbolehkan perkawinan antar lawan jenis. Demi terwujudnya tujuan itu, banyak hal yang mereka lakukan, seperti menggelar seminar sampai menerbitkan buku yang berjudul “Indahnya kawin sejenis”.[41]

ANALISIS DATA

Ketika membuat makalah ini, penulis sempat membuat sebuah kuisisoner yang bertujuan untuk mengetahui seluk-beluk kehidupan kaum gay Jakarta. Kami memberikan 4 pertanyaan kepada 20 orang dalam bentuk kuisioner.

Pertanyaan pertama adalah, “Darimana Anda mengenal istilah homoseksual?”. Mayoritas responden (13 orang), menjawab dari media elektronik atau cetak. Dilain pihak, hanya 4 orang yang menjawab dari buku dan hanya 3 orang yang menjawab dari teman. Ini menunjukkan bahwa media sangat berperan besar dalam penyebaran informasi tentang homoseks/gay.

Pertanyaan kedua, “Pernahkah Anda mengalami homoseks?” Mayoritas responden (12 orang) menjawab belum pernah, dan hanya 8 orang yang menjawab sudah pernah. Tampaknya fakta ini berkolerasi dengan analisa Kompas bahwa 8-10 juta pria pada satu waktu pernah mengalami perbuatan homoseksual.[42]

Pertanyaan ketiga, “Pernahkah Anda melihat adegan homoseksual sedang kontak fisik? Darimana Anda mengetahuinya?”. Mayoritas responden yang menjawab “Pernah, dari TV ataupun langsung” sebanyak 15 orang, sedangkan yang menjawab belum pernah hanya 5 orang.

Pertanyaan keempat, “Menurut Anda apakah factor yang mempengaruhi seseorang menjadi homoseksual?” Mayoritas responden (11 orang) menjawab “Lingkungan”, 6 orang yang menjawab “Genetik” dan 3 orang menjawab “Ragu-ragu”.

Dari data diatas, penulis menganalisa bahwa sebenarnya masyarakat kita masih kurang memahami hakikat homoseksualitas/gay. Contohnya pada pertanyaan keempat, masih ada 3 responden yang menjawab “Ragu-ragu” ketika ditanya penyebab seseorang menjadi homoseks.

Selain itu, penulis menyimpulkan bahwa media sangat berpengaruh dalam penyebaran informasi tentang dunia gay. Ini tentu bisa dimanfaatkan oleh pemerintah atau pihak yang berwenang menyosialisasikan eksistensi kaum gay. Media juga bisa digunakan oleh kaum gay sendiri untuk memperjuangkan diskriminasi dan kesewenang-wenangan yang ditujukan kepada mereka. Dan sebaliknya, bagi pihak-pihak yang “tidak menyetujui” adanya kaum gay, media juga bisa sangat berguna untuk mencapai tujuan mereka.